Sekilas Rangkuman Hukum Perkawinan Di Indonesia (4)

Melanjuti pembahasannya sebelumnya dalam cerai talak dan cerai gugatan, sebelum terjadinya putusan dari Pengadilan mengenani pengesahan cerai antara suami dan isteri, maka dalam Undag-undang juga dipaparkan adanya usaha untuk mendamaikan yang dilakukan oleh pengadilan dan biasa diserahkan perdamaian pernikahan tersebut di ruang atau meja mediasi. Dan yang mendamaikannya disebut sebagai “Mediator”.

Seorang Mediator, memiliki wewenang untuk bisa mendamaikan pasangan dari suami dan isteri tersebut agar bisa berdamai Kembali sehingga terwujudnya pembatalan perceraian dan menjadikan pasangan tersebut menjadi keluarga yang utuh Kembali. Namun daripada itu jika telah diusahakan proses mediasi tersebut justru tidak membawakan hasil dan pasangan suami isteri tersebut tetap ingin bercerai, maka dikatakan bahwa proses mediasi itu tidak berhasil dan dilanjutkan proses perceraian tersebut kepada pengadilan. Namun sebaliknya jika terjadi perdamaian dari pihak suami dan isteri maka gugatan perceraian dan cerai talak tersebut tidak ditindalanjuti.

Kapan terjadinya perceraian??, perlu dipahami dua hal sebelum terjadi perceraian. Pertama, dalam perkawinan yang dilakukan menurut agama Islam, maka perceraian (baik talak, atau gugatan), dianggap terjadi dan berlaku segala akibatnya sejak saat perceraian itu dinyatakan dan di ikrarkan di depan sidang Pengadilan dan jatuhnya putusan dari Pengadilan. Kedua, Adapun dalam perkawinan yang dilakukan selain menurut Agama Islam, maka perceraian dianggap terjadi beserta segala akibatnya terhitung mulai sejak pendaftarannya pada daftar pencatatan oleh pegawai pencatat perkawinan.

Kapan terjadinya pembatalan perkawinan?, suatu perkawinan dapat dibatalkan apabila tidak memenuhi  syarat-syarat yang tertera pada pasal 22 UU perkawinan no 1 tahun 1974. Melalui uu tersebut berarti bahwa perkawinan itu dilarang apabila tidak memenuhi syarat-syarat. Namun apabila sudah terlanjur terlaksana tanpa adanya pemenuhan syarat-syarat maka perkawinan tersebut dapat dibatalkan.

Waktu iddah, waktu iddah adalah identik dengan waktu tunggu bagi seorang isteri/janda dimana pada waktu tersebut seorang isteri/janda tidak boleh untuk melakukan perkawinan, bahkan dilarang untuk menerima khitbah (pinangan). Dengan tujuan untuk apabila seorang perempuan ditinggal mati okeh suaminya maka untuk menghormati seorang suami yang telah meninggalkannya, sedangkan jika di ceraikan oleh suami dan masih hidup untuk membersihkan Rahim dari adanya janin yang ada pada dirinya. Dan istilah masa iddah ini memliki definisi khusus yaitu dikatakan “Masa Berkabung”    

Sumber : “Hukum Perkawinan di Indonesia “, (H. arso Sostromodjo SH. & H. A Wasit Aulia M.A) cetakan pertama, tahun 1975

Sekilas Rangkuman Hukum Perkawinan Di Indonesia (3)

Dalam pembahasan kali ini yaitu membahas tentang pelaksanaan dari Undang-undang perkawinan di Indonesia, setelah terjadi perbincangan yang terus dilakukan untuk memenuhi permintaan dari banyaknya permintaan masyarakat, maka daripada itu setelah diadakan sidang paripurna oleh Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia mengenai Rancangan Undang-undang perkawinan tepatnya tangal 22 desember 1973 diterimanya dengan baik undang-undang tersebut dan juga bertepatan dengan hari Ibu. Sehingga daripada itu disahkannya Undang-undang perkawinan No. 1 tahun 1974 pada tanggal 2 januari 1974.

Tata cara perkawinan dan Akta perkawinan, pelaksanaan perkawinan itu didahului dengan kegiatan-kegiatan, baik kegiatan itu dilakukan oleh calon mempelai ataupun bagi para petugas percatatan perkawinan. Dengan berupa kegiatan dari calon mempelai atau orang tua dari calon mempelai memberiktahukan kepada pegawai pencatat perkawinan bahwa akan melangsungkan perkawinan, dan kegiatan dari para pencatat perkawinan yaitu dengan meneliti syarat-syarat perkawinan itu sendiri dan melihat apakah sudah seusai atau ada yang bertentangan dengan undag-undang. Adapun pelaksanaan perkawinan dapat dilangsungkan biasanya 10 hari sejak pengumuman dari pegawai pencatat perkawinan.

Tata cara perceraian, dalam undang-undang perkawinan dijelaskan bahwa suatu perkawinan dapat dikatakan putus jika terdapat a. kematian, b. perceraian, dan c. atas putusan Pengadilan. Serta diterangkan dalam pasal 39 Undang-undang perkawinan bahwa suatu perceraian hanya dapat dilakukan di depan Sidang Pengadilan. Dengan yang dimaksud adalah dalam mengatur perceraian Talak.

Istilah cerai dalam undang-undang yaitu terdapat dua macam, baik itu cerai talak dan cerai gugatan. “Cerai talak” adalah perceraian yang terjadi atas permintaan dari sang suami untuk ingin menceraikan istrinya dengan alasan-alasan yang dapat diterima oleh pengadilan, sedangkan “Cerai Gugatan” itu sendiri hamper memiliki definisi yang sama dengan cerai talak, tetapi yang membedakan adalah yang mengajukan perceraian ini adalah sang isteri yang mengajukan ke Pengadilan untuk menggugat sang suami atas alasan-alasan yang dapat diterima oleh Pengadilan.

Baik Cerai Talak atau Cerai Gugatan, keduanya merupaka perbuatan yang dibenci oleh Allah Swt. dan oleh karena itu hendaknya perbuatan tersebut dijauhkan dan diusahakan untuk menghindarinya kecuali dalam keadaan yang aman mendesak (Darurat). Sebab jika terjadinya cerai antara sang suami dan isteri maka akan timbulnya pertanyaan untuk sang anak yang mereka miliki apakah untuk kelanjutannya diasuh oleh sang ibu ataupun sang bapak.

Sumber : “Hukum Perkawinan di Indonesia “, (H. arso Sostromodjo SH. & H. A Wasit Aulia M.A) cetakan pertama, tahun 1975

Perempuan Dalam Budaya Arab Pra Islam

  1. Perkawinan

Ada beberapa jenis perkawinan yang dipraktekan di kalangan masyarakat Arab, sebagian diakui keabsahannya oleh hukum islam dan sebagian lain dihapuskan karena tidak bersesuaian dengan jiwa hukum Islam :

  1. Poligami, merupakan praktek yang sudah melembaga di masyarakat Arab, namun poligami yang dilaksanakan tidak ada aturan dan batas-batasnya. Seorang laki-laki boleh menikahi perempuan sebanyak-banyaknya tanpa ada batas maksimal. Contohnya, seorang sahabat bernama Ghailan masuk islam dan ia mempunyai istri 10 orang, nabi menyuruhnya untuk memilih 4 istrinya dan menyuruh menceraikan yang lainnya. Pembatasan menjadi empat isteri merupakan sebuah reformasi.[1]
  2. Istibdla, yakni seorang suami meminta istrinya untuk berhubungan badan dengan laki-laki mulia atau mempunyai kelebihan sesuatu, setelah hamil si suami tidak mencampurinya hingg istrinya melahirkan. Tujuan perkawinan ini adalah untuk mendapatkan gen, sifat, atau keturunan terhormat atau istimewa.
  3. Rahthun atau Poliandri, yaitu seorang perempuan mempunyai pasangan laki-laki lebih dari seorang. Apabila terjadi kehamilan, si perempuan akan memanggil para suaminya kemudian si perempuan itu menunjuk bahwa kehamilannya itu adalah hasil dari si A- dan si A yang ditunjuk perempuan itu tidak boleh menolak atau mengelak.
  4. Maqthu, seorang anak tiri menikahi ibu tirinya ketika ayahnya meninggal. Isyaratnya, ketika si ayah meninggal, si anak melemparkan kain kepada ibu tirinya sebagai pertanda ia menyukai ibu tirinya, dan ibu tiri tersebut tidak dapat menolak. Apabila anak laki-laki itu masih kecil, si ibu diharuskan menunggu anaknya hingga dewasa, setelah dewasa si anak mempunyabhak untuk menikahi ibu tirinya atau melepaskannya.
  5. Badal, yaitu tukar menukar istri tanpa ada perceraian terlebih dahulu dengan tujuan untuk mencari variasi atau suasana baru dalam berhubungan seks.
  6. Sighar, yaitu seorang wali menikahkan anaknya atau saudara perempuannya dengan laki-laki lain tanpa mahar dengan komoensasisi wali sendiri menikahi anak perempuan si laki-laki tersebut. 
  7. Khadan, yaitu perkawinan antara seorang laki-laki dengan perempuan secara sembunyi-sembunyi tanpa adanya akad nikah (kumbul kebo), masayrakat Arab ketika menganggap perkawinan ini bukan merupakan kejahatan asal dilakukan secara rahasia.[2]
  • Saksi Perempuan

Dalam masalah saksi, pengadilan masyarakat arab jahiliyah sama sekali tidak menerima perempuan menjadi saksi, baik dalam masalah perdata ataupun pidana. Kemudian islam dapat menerima perempuan menjadi saksi walaupun hanya terbatas dalam perkara perdata saja dan harga seorang saksi perempuan adalah setengah dari laki-laki. Meskipun islam memberikan hak terhadap saksi perempuan masih sangat terbatas dan harganya setengah dari laki-laki, namun pada saat awal islam, hal ini merupakan terobosan yang sangat besar dan revolusioner. Namun, untuk konteks saaat ini, di mana laki-laki dan perempuan telah dianggap memiliki derajat dan status yang sama, apakah satu banding dua dalam saksi itu masih relavan untuk dipertahankan?

Salah satu alasan yang membuat kesaksian perempuan ini tidak relavan karena alasan penolakan atau satu berbanding dua ini karena keimanan dan kapasitas intelektual perempuan dianggap tidak mampu menyaingi laki-laki. Pendapat ini akan berbedabila dibandingkan dengan perkataan Nabi yang menyatakan bahwa “ Seorang perempuan yang benar lebih baik dari pada 1000 orang laki-laki yang tidak benar”[3]

      Dalam kondisi masyarakat yang menganggap perempuan kotor, bahkan setara dengan binatang, islam berusaha mengangkat martabat mereka dan menghilangkan sisa-sisa keyakinan agama-agama atau kebudayaan sebelumnya. Perempuan pun diberikan status yang sama dengan laki-laki, sungguh suatu sikap yang sangat bertentangan dengan budaya arab saat itu.[4]

  • Wali

Dalam budayan arab kuno, seperti telah disebutkan dalam beberapa pembahasan sebelumnya, bahwa perempuan merupakan milik kabilahnya. Apabila ada laki-laki yang mau mengawini seorang perempuan dari kabilah lain, maka ia harus membelinya dari kabilah itu. Kemudian, beralih kepada hal yang lebih kecil bahwa perempuan itu adalah milik walinya. Dalam posisi ini, perempuan suka atau tidak suka dapat dipaksa kawin oleh walinya. Dalam tradisi arab kuno ini masih dilestarikan dalam dokrin fiqh islam dengan suatu institusi yang disebut wali mujbir, yakni wali yang berhak memaksa perempuan dengan lelaki pilihan walinya, walaupun dalam doktrin fiqh sudah dipersempit pemilik “hak paksa” ini yakni hanya pada ayah dan kakek saja. Pendapat ini hanya berada dalam madzhab Syafi’I saja, sementara madzhab lain tidak memakainya, bahkan sekarang disebagian besar Negara islam yang menganut madzhab Syafi’I sudah meninggalkan faham ini.

Menurut Asaf A. A. Fryzee, hak ijbar (pemaksaan) dari wali ini bukan menjadi karakteristik hukum islam. Dalam islam dan disepakati oleh ulama fiqh adalah tentang hak ijbar perwalian bagi anak perempuan yang belum baligh. Dalam proses hukum ini, orang tua berhak menikahkan anak perempuannya, tanpa seizin anaknya tersebut mencapai usia baligh. Praktik ini juga diakui dalam masyarakat Arab Pra Islam.[5]

      Dari beberapa permasalahan di atas, bila ditinjau lebih dalam lahgi justru bertentangan dengan beberapa prinsip islam itu sendiri, yang lebih menekankan relasi seimbang antara laki-laki dan perempuan, baik dalam wilayah publik atau domestic. Dalam beberapa kasus, Al-Qur’an sendiri banyak meminjam adat atau kebiasaaan bangsa araba tau bangsa lain yan mengitarinya, meskipun dilakukan perubhan-perubahan. Yang menjadi penting di sini adalh perubahan yang dilakukan Al-Qur’an menjadi stimulus bagi umat islam untuk selalu membaca Al-Qur’an dengan semangat zamannya. Kesalahan dalam pembacaan ini, dengan tetap berpegang pada budaya dan kebiasaan arab yang profan, justru akan menghalangi kebangkitan dan kejayaan Islam itu sendiri.[6]

  • Aspek Penegakan Hukum dan Pengadilan

Bangsa arab Jahiliyah pada waktu itu sudah mengenal bentuk-bentuk Lembaga peradilan untuk menyelesaikan segala sangketa mereka, hanya saja mereka belum memiliki undang-undang tertulis yang dapat dijadikan pegangan para Qadhi. Cara memutuskan hukum yang menyesuaikan dengan adat kebiasaan mereka secara turun-temurun, dari pendapat kepala suku, atau orang-orang yang mereka pandang arif yang dikenal sebagai orang-orang yanh bijak pendapatnya, dan menyita hak-hak dengan firasat dan tanda-tanda. Orang itu dalam buday arab disebut (kahiin). Satu hal yang menarik mereka lebih mendahulukan firasat dan tanda-tanda dari pada dengan alat bukti seperti saksi atau pengakuan[7]

Mereka menyebut qadha sebagai hukumah, sedangkan qadhi mereka sebut hakam. Setiap kabilah mempunya hakam tersendiri, sedangkan hukumah (Lembaga peradiln) tidak ada yang berdiri sendiri kecuali bagi bansa Quraish. Dalam hal ini, melihat konteks masyarakat arab yang telah maju ini, tidak heran bila waktu itu telah ada Lembaga pengadilan yang memang bertanggung jawab dalam urusan penyelesaian sengketa dalam menerima pengaduan-pengaduan dari para anggota masyarakat, seperti halnya dalam diyat untuk masalah pembunuhan atau penganiayaan.[8]


Sumber Refrensi

[1] Asghar Ali Engineer, hak-hak perempuan dalam islam, Ahli Bahasa :Farid Wajidi, Yogyakarta, LSPPA, tahun 2000, hal 156

[2] Sayyid Sabiq, Fiqh al-sunnah, (cetakan semarang : Thoha putra, tth), jilid III. h.6

[3] Nazira Zein ed-Din, antara berjilbab dan tidak, dalam Charles Kurzman, wacana islam Liberal : pemikiran islam kontemporer tentang isu-isu global. Penerjemah bahrul ulum dan heri junaidi, (Jakarta: Paramadina, 2001), h.140

[4] Wahbah Zuhaily, kebebasan dalam islam, h.271-272.

[5] Asaf A. A Fyzee, Outlines of Muhammad Law, (London : oxport university Press, 1995) cet. II. H. 178

[6] Ameer Ali, The Spirit of islam, h.98.

[7] Lihat Muhammad Salam Madzkur, al-Qadha fil islam, (mesir: Darunnahdhah al-Arabiyyah, tth), h.19

[8] N. J. Coulson, A History of Islamic Law. Edisi Arab Oleh Muhammad Ahmad Siraj, (Beirut: muassah al-jamiah al-dirasat, 1992), h.28

Sekilas Rangkuman Hukum Perkawinan Di Indonesia (2)

  • Perkawinan Menurut Agama Hindu

Perkawinan menurut Istilah Hindu sering disebut “Wiwaha”, dalam perkawinan tersebut secara undang-undang agama Hindu yang biasa disebut dengan “Manawa Darma Satwa” yang mana undang tersebut memiliki keudukan yang sama dengan Weda (Sumber Hukum agama Hindu).

Perkawinan dalam Agama Hindu, juga merupakan hal yang sakral dan dapat dikatakan sah jika pernikahan tersebut dilakukan sesama orang yang memiliki kepercayaan Agama Hindu.

Dengan tujuan pernikahan dari agama Hindu ini adalah untuk membantu serta menolong guna membebaskan arwah nenek moyang atau orang tua dari kawah neraka.

  • Perkawinan Menurut Agama Budha

Penafsiran untuk perkawinan dalam agama Budha diambil dari rujukan kitab yang disebut “Tripittaka”. Yang didalam kitab tersebut adanya penegasan dan isi pokoknya berupa etika dan falsafah. Dan perlu diketahui orang-orang Budha atau Budhaisme di negeri kita ini Indonesia adalah orang-orang yang fleksibel dengan bisa memahami serta mudah beradaptasi dengan adat-adat yang hidup dalam lingkungan masyarakat.

  • Perkawinan Menurut Agama Kristen dan Katolik

Perkawinan dalam agama Kristen dan Katolik ini merupakan hasil dari sebuah doktriner, dengan merujuk pada dua bahan, yaitu Kitab perjanjian Lama dan Kitab Perjanjian Baru.

Dalam Kitab Perjanjian Lama disebutkan, “Perkawinan diartikan sebagai gambaran dan tiruan dari bimbingan Tuhan. Suami isteri dibangkit menempakkan menghadiahkan cinta kasih Tuhan dalam kehidupan cinta mereka”

Dalam Kitab Perjanjian Baru disebutkan, “ Perkawinan seorang Kristen diartikan sebagai suatu ikatan cinta kasih tetap dan taat yang menggambarkan, melahirkan serta mewujudkan hubungan cinta Kristus dengan gerejanya”.

  • Perkawinan Menurut Agama Islam

Perkawinan dalam agama Islam merupakan perbuatan sunnah dari Rasulullah Saw. Oleh karena itu bagi para penganut agama Islam yang baik yaitu yang mengikuti sunnah Rasul-Nya, yaitu melakukan perkawinan.

Perkawinan disyariatkan oleh Agama Islam, karena untuk mempunyai keturunan, penerus, dan keluarga yang sah menuju kehidupan yang Bahagia di dunia ataupun di akhirat kelak. Dengan berlandaskan naungan dari sang pemilik cinta dan kasih yaitu Allah Swt.

Sumber : “Hukum Perkawinan di Indonesia “, (H. arso Sostromodjo SH. & H. A Wasit Aulia M.A) cetakan pertama, tahun 1975

Sekilas Rangkuman Hukum Perkawinan Di Indonesia

Bab Pertama

Menjelang lahirnya undang-undang perkawinan, berangkat dari tahun 1928 Kongres Perempuan Indonesia membahas tentang keburukan-keburukan yang terjadi dalam perkawinan di kalangan umat Islam khususnya, yaitu tentang perkawinan anak-anak, perkawinan kawin paksa, poligami, talak (memutus hubungan suami istri) sewenang-wenang dan lain-lainnya.

Berbagai oraganisasi di Indonesia terus mendesak kepada pemerintah pada saat itu dan juga D.P.R, agar supaya secepat mungkin mengesahkan penggarapan mengenai Rancangan Undang-undang (RUU) tentang perkawinan. Oraganisasi-organisasi tersebut yaitu Musyawarah Pekerja Sosial, Musyawarah Kesejahteraan Keluarga, Konperensi Badan Penasihat Perkawinan, sampain Persatuan Sarjana Hukum Indonesia juga ikut serta dalam hal tersebut.

Rancangan Undang-Undang (RUU) yang dimaksud untuk segera disahkan adalah tentang, pertama. RUU tentang Pokok-pokok perkawinan Umat Islam, kedua. RUU tentang Ketentuan Pokok Perkawinan., tetapi setelah masuknya 2 opsi tersebut pemerintah serta D.P.R tidak mengesahkan poin yang pertama, karena ada Fraksi (atau partai) yang menolak, dan 2 fraksi yang abstain, walaupun ada sekitar 13 fraksi lainnya menyetujui.

Zaman penjajahan, negara Kita Indonesia pada masa itu bukan merupakan tanah yang tandus dan kosong dari tatahukum, melainkan penuh dengan peraturan dan hukum. Waktu pemerintahan gubernur Jendral Daendels, ada anggapan bahwa hukum asli terdiri atas Hukum Islam, sedangkan Raffles mengira bahwa Hukum Adat itu tidak lain adalah Hukum Islam.

Pengaruh agama terhadap perkawinan, dalam peraturan perundangan jika terdapat pengaruh dari agama dalam perkembangan dan isi peraturannya maka Agamalah yang paling Nampak pada hukum perkawinan dan kekeluargaan.

Dalam Agama Hindu, “Wiwaha” adalah pranata sosial, yaitu kebiasaan yang dimuliakan, yang mana setiap perkawinan merupakan sebagai suatu jalan untuk melepaskan derita orangtuanya di waktu mereka meninggal. Perkawinan juga dianggap sebagai salah satu proses pencucian badana.

Dalam pernikahan Agama Kristen, mengakui bahwa nikah itu lembaga pensucian yang asalnya dari Tuhan dan ditetapkan untuk kebahagiaan masyarakat.

Dalam agama Katholik, perkawinan ini dianggap menjadi hal yang sacrament. Tak ada perbedaan antara perjanjian dan sacrament, sacrament adalah perjanjian dan perjanjian adalah sacrament.

Menurut agama Islam, perkawinan adalah perikatan suci (heilige contract) antara pria dan wanita sesuai dengan yang telah ditentukan oleh Allah, untuk hidup bersama, guna mencapai masyarakat yang Mulia (An-Nisa ayat 21)

Sumber : “Hukum Perkawinan di Indonesia “, (H. arso Sostromodjo SH. & H. A Wasit Aulia M.A) cetakan pertama, tahun 1975

Contoh Materi Khutbah Idul Fitri

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh..

Takbir 3x, Laa ilaa…, Allahu Akbar kabiiro…, Laa ilaaha illa Allahhu wa laa na’budu..

Alhamdulillahilladzi ja’ala ‘al yauma mim baynil ayaami fi I’dan wa mubarokan fi kulli sannah wahuwa yaumul idil fitri , walhamdulillah aladzi an’amana bi ni’matil iman wal islam wahuwa A’zhomu Ni’am…, Syahadataini…, Amma ba’du…

Fa yaa ayyuhal haadiruun, ….

Qoola Allahu Ta’ala, (Al- hasyr: 18).

Takbir 3x, wa lillahi al-hamd..

Ma’asyiral Muslimiin Rahimakumullah..

Tak ada kata maupun kalimat yang pantas kita ucapkan, melainkan “kalimatussyukri” Alhamdulillah, ungkapan rasa syukur kita kehadirat Allah subhanahu wa ta’ala, yang mana atas Rahmat, Ni’mat dan Ridho-Nya, kita dapat bertemu dan berkumpul ditempat yang mulia ini, untuk bersimpuh, meruku’kan dan mensujudkan jiwa raga kita dihadapan-Nya, mengakui segala kelemahan, kerendahan dan keterbatasan kita sebagai makhluk yang diciptakan oleh-Nya.

Shalawat beserta salam semoga selalu tercurahkan kepada suri tauladan kita… Nabi Muhammad …

Takbir 3x, wa lillahi al-hamd..

Hari ini, Allah izinkan kita untuk melaksanakan sholat idul fitri, di lingkungan kita  yang terbuka ini, karena Allah ingin memperlihatkan kepada kita sebagian dari tanda-tanda kebesaran-Nya, Allah ingin memperlihatkan langit, Allah ingin memperlihatkan berbagai macam ciptaan-Nya di bumi ini, agar kita senantiasa menyadari, betapa kecilnya kita di hadapan-Nya, betapa lemah dan tidak berdayanya kita hidup di dunia ini tanpa kekuatan dari-Nya. Kita menyadari, begitu besar kekuasaan-Nya, sehingga sudah sepantasnya kita menyerukan takbir, tahmid dan tahlil, bukan hanya sekedar budaya, akan tetapi, sebuah kesadaran tentang kebesaran Allah subhanahu wa ta’ala, Sang pemilik alam semesta ini.

Ketika kita bertakbir, kita menyadari bahwa hanya Allah lah yang patut di Agungkan. Karena kalau kita perhatikan, tidak sedikit manusia yang merasa dirinya besar, padahal hanya Allah lah yang Maha Besar.

Ketika kita bertahmid, kita menyadari bahwa hanya Allah lah yang pantas di puji, selama ini, sering kali kita senang untuk memuji diri sendiri, memuji kelompok sendiri, padahal, sesungguhnya segala pujian itu hanya milik Allah subhanahu wa’taala. Tidak ada yang pantas di puji kecuali Allah subhanahu wa’taala.

Ketika kita bertahlil, kita menyadari sepenuhnya bahwa tidak ada tuhan yang pantas disembah kecuali Allah subhanahu wa’taala, kita menyadari bahwa hanya Allah subhanahu wa’taala tempat untuk mengantungkan harapan, tempat untuk mohon pertolongan. Karena kalau kita perhatikan, tidak sedikit manusia yang merasa mendapatkan keberuntungan karena suatu benda yang dipakainya, atau karena suatu hal yang di banggakannya, padahal itu semua tak lain merupakan tipu daya dari syaithon, yang tidak pernah lelah untuk menyesatkan manusia dari jalan yang lurus, yaitu jalan yang di ridhoi Allah subhanahu wa’taala.

Takbir 3x, wa lillahi al-hamd…

Tak terasa, bulan Ramadhan 1441 H telah usai kita lewati dengan berbagai macam cerita dan pengalaman berharga di dalamnya. Rasanya, baru kemarin kita bersemangat untuk menyambut datangnya bulan Ramadhan, bulan yang penuh dengan keberkahan, bulan yang penuh dengan rahmat dan ampunan, yang mendidik kita untuk menjadi pribadi yang disiplin, amanah dan taat pada aturan.

Dapat kita rasakan, bagaimana Puasa Ramadhan tahun ini merupakan salah satu puasa Ramadhan yang paling berat, puasa ramadhan yang paling menguji kesabaran dan ketaatan kita kepada Allah subhaanahu wa’taala. Kita rasakan, bagaimana penyebaran virus Covid-19 mengubah kehidupan kita dari manusia yang aktif menjadi manusia yang pasif. Dari yang jarang berada di rumah menjadi dapat berkumpul dengan keluarga di rumah. Virus yang berbentuk sangat kecil itu menyebabkan seluruh usaha dan pekerjaan menjadi lebih berat, mengurangi bahkan menghilangkan pekerjaan banyak orang.

Maka dalam kesempatan ini, dengan kalimat takbir, tahmid dan tahlil yang kita kumandangkan bersama, mari kita berusaha memperbaiki komitmen kita untuk menyerahkan segala permasalahan yang sedang kita hadapi kepada Allah subhanahu wa’taala. Karena pada hakikatnya, segala macam cobaan, ujian, dan musibah yang membebankan kita, tak lain merupakan kehendak Allah subhanahu wa’taala. Allah pasti memiliki maksud dan tujuan dari apa yang Ia berikan kepada makhluk-Nya.

Takbir 3x, wa lillahi al-hamd…

Kaum muslimiin yang di rahmati Allah subhanahu wa taala

  • Tujuan utama perintah Puasa Ramadhan adalah agar kita menjadi orang yang bertaqwa. (QS. Al Baqarah 183) Dalam kondisi apapun, senang maupun susah, lapang atau sempit, kita wajib berusaha untuk menjadi orang yang bertaqwa.  
  • Definisi taqwa itu sendiri yaitu, imtisalu awafiri Allah Wajtinabu nawahihillah. (Yaitu melaksanakan segala perintah Allah Swt baik dari Al-Qur’an dan Al hadits, serta meninggalkan segala larangan Allah dari Al-Qur’an dan Al hadits)
  • Takbir 3x, wa lillahi al-hamd…
  •  Walaupun dalam kondisi karantina yang sudah berjalan 2 bulan ini, mari kita terus meningkatkan kualitas dan kuantitas ketaqwaan dan kesabaran kita kepada Allah Swt.
  • Karena, Ketaqwaan dan kesabaran adalah modal utama untuk menghadapi kondisi pandemi Covid 19 seperti saat ini.  Allah Swt
  • يَٰٓأَيُّهَا ٱلنَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَٰكُم مِّن ذَكَرٍ وَأُنثَىٰ وَجَعَلْنَٰكُمْ شُعُوبًا وَقَبَآئِلَ لِتَعَارَفُوٓا۟ ۚ إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِندَ ٱللَّهِ أَتْقَىٰكُمْ ۚ

“Wahai Manusia Sesungguhnya Kami ciptakan kamu dari seorang laki-laki dan perempuan, kemudian kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku suku agar saling mengenal. Karena sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu di sisi Allah adalah orang-orang yang paling bertaqwa, sungguh Allah maha mengetahui dan maha teliti.” (Al hujurat 13 )

  • وَسَارِعُوٓا۟ إِلَىٰ مَغْفِرَةٍ مِّن رَّبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا ٱلسَّمَٰوَٰتُ وَٱلْأَرْضُ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ

    “Dan bersegeralah kamu meminta ampunan dari Allah Swt, yang dari ampunan itu kamu akan memperoleh surga-Nya yang luasnya seluas langit dan bumi, tetapi itu semua di sediakan hanya untuk orang-orang yang bertaqwa” (Al Imran 133)

Takbir 3x, wa lillahi al-hamd…

  • Allah SWT. telah berjanji, bahwa barangsiapa bertaqwa pasti akan diberikan solusi dan jalan keluar atas segala persoalan kehidupan, termasuk pandemi virus 19 ini. 
  •  Kesabaran sangat perlu kita pupuk, karena ujian akan berakhir dengan kemuliaan jika diiringi dengan kesabaran. Kita dapat mengambil himah serta pelajaran dari Para Kekasih Allah yaitu para Nabi dan orang–orang saleh banyak menghadapi ujian berat, dengan kesabaran yang kuat, akhirnya mereka mendapat kemuliaan disisi Allah SWT.
  • Dapat kita ambil contoh kisah nabi,
  •  Nabi Yunus, dikarantina di dalam perut ikan yang kita kenal dengan ikan paus, Kala itu beliau tengah diutus oleh Allah SWT untuk menyampaikan wahyu di suatu daerah. Nabi Yunus diminta mengajak para penduduk di kota itu beriman dan meninggalkan berhala-berhala.
  • Namun, para penduduk kota itu menolak ajakan Nabi Yunus dan malah memilih untuk menyembah berhala serta sesat dalam kekafiran. Bahkan, mereka mengolok-olok dan mencaci maki Nabi Yunus.
  • Setelah menyampaikan wahyu dari Allah untuk menyembah Allah namun melihat kaumnya menolak ajakan tersebut nabi yunus pun pergi dari daerah tersebut serta mendapatkan teguran dari Allah untuk tidak pergi Ummatnya tersebut. Sesampainya nabi Yunus di laut.
  • Pada saat yang bersamaan, Allah SWT mengirimkan ikan paus untuk menelan dirinya tanpa merobek daging atau mematahkan tulangnya. Di dalam perut ikan paus Nabi Yunus berdoa memohon ampun kepada Allah. Sehingga dengan singkat cerita Akhirnya mendapati umatnya di daerah tersebut bertaubat kepada Allah.
  • Oleh karena itu Allah mengkisahkan kisah nabi Yunus dalam Surat Al-Anbiya
  • Dan (ingatlah kisah) Zun Nun (Yunus), ketika dia pergi dalam keadaan marah, lalu dia menyangka bahwa Kami tidak akan menyulitkannya, maka dia berdoa dalam keadaan yang sangat gelap, Beliau berkata “Tidak ada tuhan selain Engkau, Mahasuci Engkau. Sungguh, aku termasuk orang-orang yang zalim.” (Al-Anbiya 87)

Takbir 3x, wa lillahi al-hamd… Kisah yang kedua adalah

  •  Nabi Yusuf, yang dikarantina di penjara, ketika itu beliau celakakan oleh saudaranya sendiri untuk tidak menceritakan atau menfasirkan berbagai mimpi dari Raja-raja, yang mana dari mimpi tersebut justru adanya Wahyu dari Allah untuk mensejahterkana warganya.
  • Namun dengan kedengkian dari saudara-saudaranya dan dengan kisahnya nabi yusuf denga siti Zulaikha yang difitnah dan dikucilkan, justru dengan kesabaran seorang nabi Yusuf beliau terus bermunajat kepada Allah untuk di ampuni segala dosa saudara-saudaranya serta orang yang memfitnahnya.
  • Kemudian dengan singkat cerita akhirnya beliau keluar dari penjara serta banyak masyarakat yang mempercayai beliau untuk menjadi Nabi dan Raja. 
  • Takbir 3x, wa lillahi al-hamd…Kisah yang terakhir adalah..
  •  Nabi Muhammad SAW melakukan karantina di Gua Hira selama 40 hari, beliau mendapatkan petunjuk dari Allah untuk menyendiri dan beribadah untuk mendapatkan wahyu dari Allah Swt,
  • Hingga disebutkan dalam sejarah bahwa beliau sampai sepuluh atau berbulan bulan menyendiri dan beribadah di gua hira. Sehingga malaikat Jibril datang kepada Rasulullah untuk membawakan Wahyu dari Allah untuk pertama kalinya dan di tuliskan dalam surat Al-alaq yang bisa membawa cahaya dan rahmat  bagi seluruh alam.

Takbir 3x, wa lillahi al-hamd…

Bercermin dari para kekasih Allah yaitu nabi yunus, nabi yusuf, dan nabi Muhammad, hendaknya kita dapat harus bersabar dan selalu memohon pertolongan dan perlindungan kepada Allah SWT. Semoga dengan adanya pandemic covid 19 kita dapat memelihara dan saling menjaga satu sama lain sehingga daripada itu, kemulian serta ketaqwaan dari Allah Swt akan kita dapatkan setelah pandemi covid-19 ini. Amiin Ya Rabbal Alamin…

BarakaAllah…..

‘’Ya Allah/ disaat-saat yang syahdu ini/ kami segenap hamba-hamba-Mu berkumpul/ bersimpuh/ berzikir, menyebut namaMu yang agung/ bermunajat kepada-Mu dan memohon ampun atas kesalahan dan kekhilafan kami.

Ya Allah/ bersihkanlah hati dan jiwa ini dari sifat iri dan dengki/ persatukan jiwa-jiwa ini dalam cinta karena-Mu/ dan dalam ketaatan kepada-Mu/ janganlah Engkau biarkan syaitan merusak persaudaraan kami/

Duhai yang Maha Menyelamatkan/ Engkaulah pelindung kami/ Engkaulah pemberi petunjuk dan Engkaulah pemberi ketenangan dalam hidup ini/berikanlah perlindungan kepada kami atas pandemi ini dan berikan petunjuk-Mu kepada kami/ agar kami mendapatkan ketenangan dalam hidup ini/

Ya Allah/ kami bersedih karena Ramadhan telah meninggalkan kami/terimalah seluruh amal ibadah kami/ Pertemukanlah kami pada Ramadhan tahun berikutnya dalam keadaan sehat wal’afiat dan dalam keridhoan-Mu/

Ya Rabbi/ ampuni kehilafan dan dosa kami/ dosa kedua orang tua kami/ dosa  keluarga kami/ bimbinglah kami menjadi keluarga yang sakinah/ mawaddah dan penuh rahmah atas kasih saying-Mu/

Ya Allah/ bukakanlah kami lembaran kehidupan baru yang bersih/ yang dapat menggantikan masa lalu kami/ sehingga kami dapat memperbaiki kesalahan2 kami/

Ya Allah yang Maha Penyayang/ sayangi kami/ sayangi kedua orang tua kami / Berikan kesempatan kami berbakti kepada mereka/ Lembutkan hati mereka untuk kami/ agar ridha mereka mengantar kami kepada Ridha-Mu/Dan, jika Engkau telah mengambil mereka ke haribaan-Mu/ maka basuhlah mereka dengan kelembutan ampunan dan rahmat-Mu/ pertemukanlah kami dengan mereka dalam kenikmatan syurga-Mu/

Rabbanaa…

Sejarah singkat Khalifah Ali Bin Abi Thalib

Khalifah Ali merupakan Khalifah yang terakhir yaitu khalifah yang ke-4, setelah di baiat (disumpah) sebagai khalifah pada pertengahan bulan Dzulhijjah tahun ke-33 Hijriah, dari terbunuhnya Khalifah Utsman. Ada sejumlah sahabat yang terlambat untuk ikut serta dalam pembaiatan Khalifah Ali, yaitu diantara mereka ialah Sa’ad bin Abi Waqash, Usmah bin Zaid, Mughirah bin Syu’bah, Nu’man bin Basyir, dan Hasan bin Tsabit.

Pada masa kekhalifahan Ali, banyak sering terjadi hari-hari fitnah, peperangan, serta pemberontakan. Diawali dengan perang Unta kemudian dilanjutkan dengan Perang Shiffin yang sudah tak asing kita dengar. Serta adanya pertentangan antara jumhur Muslimin dengan Muawiyah dan yang paling buruk adanya pembunuhan kaum khawarij (orang-orang yang keluar dari kelompok Khalifah Ali) terhadap Khalifah Ali bin Abi Thalib.

Kisah sebelumnya, yaitu adanya pembunuhan khalifah Utsman dibuntuti hingga permasalahan yang Panjang, dimana kaum pemberontak yang dipimpin oleh orang-orang yahudi. Banyak dari masyarakat Muslimin yang terpancing dengan untuk disegerakan adanya hukuman Qishas untuk pembunuh Khalifah Utsman, tetapi Khalifah Ali dengan ketenagan yang Beliau miliki justru menangguhkan permintaan kaum Muslimin untuk melakukan Jarimah Qishas, karena menurut beliau perlu sekiranya untuk menelaah adanya perwujudan untuk perbuatan yang dharuri, menjamin terlaksana Qisah tersebut.

Singkat peristiwa, kaum Muslimin berkumpul di basharah untuk melakukan ijtihad guna mengepung para pembunuh dari khalifah Utsman, bahkan dikisahkan dalam riwayat bahwa Istri dari Rasulullah Aisyah Ummul Mu’minin hadir pada perkumpulan tersebut. Kemudian khalifah Ali mengutus sahabat Al-Qa’qa bin Amr untuk menanyakan perihal kedatangan Istri dari Rasulullah yaitu Aisyah R. A, “Wahai Ibunda, apakah gerangan yang mendorong kedatangan ibunda ke negeri ini?”, Aisyah R. A, kemudian Menjawab “Ishlah diantara Manusia”, kedatangan ibunda Aisyah merupakan perbuatan untuk melihat pembenaran yang ada di kota Bashrah tersebut.

Masalah Khawarij dan Terbunuhnya Khalifah Ali, ketika Ali mengutus Abu Musa a;-Asy’ari dan pasukannya ke Daumatul Jandal, masalah dengan kaum khawarij semakin memuncak, mereka semakin benci terhadap Khalifah Ali dan mengecam dan bahkan mengkafirkan Khalifah Ali karena tindakannya yang tidak menerima tahkim, padahal kaum Khawarij ini sebelumnya termasuk mereka yang paling antusias dan sangat mendukung Khalifah Ali.

Abdurrahman bin muljam, adalah salah seorang tokoh khawarij. Dalam riwayat dijelaskan bahwa ia sedang melamar seorang wanita cantik bernama Qitham. Karena ayah dan saudari wanita ini terbunuh di peristiwa Nahrawan, ia mengisyaratkan kepada Abdurrahman bin Muljam, jika ia ingin menikahi Qitham maka ada syaratnya, yaitu sayaratnya membunuh Khalifah Ali bin Abi Thalib.

Kemudian dengan adanya pembicaraan ini, terdengarlah sampai ke telinga Khalifah Ali, kemudian beliau berkata kepada Sahabatnya “Jika aku mati, Bunuhlah ia (Abdurrahman bin Muljam), tetapi jika aku hidup, aku tahu bagaimana bertindak terhadapnya,”, singkat cerita terbunuhlah Khalifah Ali dan ketika sakaratul maut beliau tidak mengucapkan apapun selain kalimat Laa Ilaha Ilallah. Beliau wafat pada usia enam puluh tahun.

Sumber : Kitab Sirah Nabawiyah, Analisis Ilmiah Manhajiah Sejarah Pergerakan Islam di Masa Rasulullah Saw

Sejarah Singkat Khalifah Utsman bin Affan

Khalifah Utsman nerupaka khalifah ke-3 setelah menggantikan Khalifah Umar yang Wafat pada tahun ke-23 Hijriah. Beliau terpilih menjadi Khalifah setelah terjadi perembukan dari pemuka kaum Muslimin, pada saat itu Ahli Syura menetapkan dua calon pemimpin Umat Islam yaitu Khalifah Utsman dan Khalifah Ali.

Pada tahun pertama dari khalifah Utsman, yaitu pada tahun 24 hijriah. Terjadi penaklukkan negeri Rayyi yang sebelumnya ini pernah ditaklukkan tetapi kemudian dibatalkan. Pada tahun ini pula muncullah wabah penyakit demam berdarah yang menimpa banyak Kaum Muslimin. Sehingga Khalifah Utsman itu sendiri pada tahun ini belum bisa melaksanakan Haji.

Pada tahun itu juga khalifah Utsman mengangkat Sa’ad bin Abi Waqqash menjadi gubernur Kufah yang sebelumnya dijabat oleh Mughirah bin Syu’bah.

Kemudian singkat cerita, pada tahun ke-25 Hijriah, Utsman memecat Sa’ad bin Abi Waqqash dari jabatan gubernurnya di Kufah dan digantikkanya beliau dengan Walid bin Uqbah bin Abi Mu’ith (seorang shahabi dan saudara seibu dengan Utsman). Inilah sebab pertama dituduhnya Utsman melakukan Nepotisme dalam masa kekhalifahannya.

Pada tahun ke-26 hijriah, Utsman melakukan perombakan di kota Makkah salah satunya yang melakukan perluasan di Masjidil Haram dengan membeli sejumlah tempat disekitar masjid dari pada pemiliknya lalu disatukan dengan masjid.

Pada tahun ke-29 Hijriah, banyak dari negeri-negeri yang non muslim berhasil ditaklukkan. Pada tahun ini juga Khalifah Utsman memperluas Masjid Al-Munawwarah dan membangunnya dengan batu-batu berukir. Beliau membuat tiangnya dari batu dan atapnya dari kayu (tatal). Yang panjangnnya 160 depa dan luasnya 150 depa.

Awal fitnah dan pembunuhan Utsman, Khalifah Utsman menjabat sebagai Khalifah selama 12 tahun, tidak ada celah yang menjadikan beliau tidak disenangi oleh kaum Muslimin yang kontra dengan beliau, bahkan beliau lebih dicintai oleh orang-orang Quraisy umumnya ketimbang Khalifah Umar yang lebih bersikap keras kepada mereka.

Akan tetapi masyarakat banyak yang berubah sikap terhadap Khalifah Utsman, karena beranggapan bahwa khalifah Utsman lebih mengutamana kerabatnya dalama pemerintahan. Kebijakan ini dilakukan Utsman atas pertimbanagan silaturrahim yang merupakan salah satu perintah dari Allah. Akan tetapi, kebijakan ini pada akhirnya menjadi sebab terbunuhnya Khalifah Utsman.

Ibnu Asakir meriwayatkan dari az-Zuhri, ia berkata “Aku pernah berkata kepada Sa’id bin Musayyab, ‘ceritakanlah kepadaku tentang pembunuhan Utsman? Bagaimana hal ini sampai terjadi?’, Ibnu Musayyab berkata, ‘Utsman dibunuh secara aniaya. Pembunuhannya adalaha zhalim dan pengkhianatannya adalah memerlukan ampunan”

Sumber : Kitab Sirah Nabawiyah, Analisis Ilmiah Manhajiah Sejarah Pergerakan Islam di Masa Rasulullah Saw

Sejarah Singkat Khalifah Umar Ibnul Khattab

Beliau merupakan khalifah ke-2 setelah Abu bakar ash-shiddiq, yang memiliki julukan dari Rasulullah yaitu “al-faruq” karena beliau ahli dalam membedakan antara yang hak dan yang batil, beliau menjadi khalifah di hari dimana khalifah Abu Bakar wafat. Selama masa kekhalifahannya, Khalifah Umar melakukan tugasnya dengan baik seperti halnya sirah, jihad, dan kesabaran Abu bakar Radhiyallahu’anhu.

Hal yang pertama dilakukan oleh khalifah Umar setelah resmi menjabat sebagai khalifah ialah mencopot Khalid bin Walid dari jabatannya sebegai panglima pemimpin pasukan dan menggantinya dengan Abu Ubaidah.

Beliau menyaksikan penakulukan Baitul Maqdis dan tinggal disana selama 10 hari. Beliau kemudian kembali ke Madinah dengan membawa serta Khalid bin Walid, tatkala Khalid menanyakan mengapa dirinya di copot dari jabatannya, khalifah Umar kemudai menjawab dengan rendah hati, “Demi Allah! Wahai Khalid, sesungguhnya engkau sangat kumulikana dan sangat kucintai”.

Dengan dicopotnya Khalid dari jabatannya, kemudian Khalifah Umar menulis surat ke berbagai wilayah untuk tidak menimbulkan hal yang kontroversial. “Sesungguhnya, aku tidak memecat Khalid karena kebencian dan tidak pula karena pengkhianatan, tetapi aku memecatnya karena mengasihani jiwa-jiwa manusia dari kecepatan serangan-serangannya dan kedahsyatan benturan-benturannya.”

Khalid bin Walid merupakan anak dari bibinya Khalifah Umar, ia meninggal pada masa Khalifah Umar di daerah yang bernama Hamat.

Pada tahun ke-14 Hijriah terdapat negeri yang ditaklukkan oleh pasukan Khalifah Umar salah satunya negeri Damaskus, yang ditaklukan dengan 2 cara yaitu dengan cara damai, serta cara kekerasan. Yang secara dengan yaitu Hamsh dan Ba’albak dan yang secara kekerasan adalah Bashrah dan Aballah.

Kemudian pada tahun itu juga (14 hijriah), Khalifah Umar menghimpun serta mengajaka Kaum Muslimin untuk melaksanakan shalat tarawih berjamaah sebanyak dua puluh rakaat.

Singkat cerita, terbunuhnya Khalifah Umar, orang yang membunuh Umar adalah seorang Majusi bernama Abdul Mughirah yang biasa dipanggil Abu Lu’lu’ah. Disebutkan dalam suatu riwayat motif yang melatarbelakangi pembunuhan ini karena ia tidak senang dengan keputusan Umar ketika ditanya mengenai berapa banyak pajak yang harus dibayar olehnya, dengan ketidaksukaan nya tersebut ia justru berjanji untuk membunuh Khalifah Umar.

Pada suatu hari disiapkannya oleh Abdul Mughirah Pisau belati yang telah diasah dan dilumuri dengan racun, hingga pada suatu ketika Umar ingin melaksanakan shalat shubuh ke masjid, abdul mughirah ini sudah siap untuk membunuh Khlifah Umar dengan menggunakan pisau belati tersebut. Dengan menikam khalifah Umar serta menusukkannya pisau tersebut ke punggung Umar sebanyak 3 tusukkan dan berhasil merobohkan badan Umar.

Kemudian kaum Muslimin yang melihat itu langsung mengepungnya dan ingin mengeksekusi Abdul Mughirah, tetapi setelah melihat dirinya dikepung justru ia menusukkan pisau belati yang ia genggam ke tubuhnya sehinga matinya ia justru karena membunuh dirinya sendiri.

Khalifah Umar sendiri wafat pada tanggal 26 Dzulhijjah 23 H, dan makamanya berada di Masjid Nabawi.

Sumber : Kitab Sirah Nabawiyah, Analisis Ilmiah Manhajiah Sejarah Pergerakan Islam di Masa Rasulullah Saw

Sejarah singkat Khalifah Abu Bakar ash-Shiddiq

Setelah Rasulullah Saw wafat pada tanggal 12 Rabiul awwal tahun ke-11 hijriah, kaum muslimin mengadakan pertemuan di suatu tempat bernama Saqifah bani Sa’idah. Kaum muslimin membicarakan siapakah yang akan menggantikan Rasulullah dan menjadi pemimpin bagi umat Islam selanjutnya.

Setelah terjadi diskusi dan pembahasan serta pengajuan beberapa usulan untuk menjadi penerus Rasulullah Saw, maka tercapailah kesepakatan bulat dari kaum Muslimin memilih khalifah yang pernah menjadi pengganti Rasul dalam memimpin kaum muslimin utnuk mendirikan shalat dan menjenguk Rasul ketika beliau sakit, yaitu Abu-Bakar Ash-Shiddiq.

Hal-hal penting yang dilakukan Abu Bakar selama menjadi khalifah, Pertama. yaitu memberangkatkan pasukan usamah, pasukan usamah adalah pasukan yang memerangi negeri jajahan yaitu negeri Romawi, sehingga ketika sebelum melakukan perjalanan menuju peperangan Abu-Bakar memberikan wasiat kepada pasukan untuk tidak berkhianat, tidak menipu dan melampaui batas.

Kedua. Yaitu memberangkatkan pasukan untuk memerangi orang yang murtad dan tidak mau membayarkan zakatnya, pasukan ini dibagi menjadi 10 panji; yang dimana setiap panjinya diperintah untuk menuju ke daerah-daerah yang rakyatnya murtad serta tidak mau mebayarkan zakat.

Ketiga. Yaitu memberangkatkan pasukan Khalid bin Walid ke negeri Irak bersama Mutsni bin Haritsah yang kemudian berhasil menaklukan banyak negeri dan kembali dengan membawa kemenangan dan barang rampasan (fa’i)

Singkat cerita, Setelah terjadi beberapa peperangan yang sengit antara kaum Muslimin dengan lawan-lawannya khususnya bangsa Romawi, yang akhirnya dimenangkan oleh kaum Muslimin. Sehingga orang-orang Romawi yang terbunuh dan dibilang tidak terhitung banyaknya, sebagaimana jumlah mereka yang di tawan.

Di tengah berkecamuknya pertempuran tersebu, Khalid bin Waid mendapatkan surat yang memberitahukan wafatnya Abu Bakar serta diangkatnya Umar Radhiyallahu’anhu. Serta dalam surat itupun adanya pemecatan Khalid sebagai pemimpin panglima perang, berita ini dirahasiakan oleh Khalid guna untuk mencegah keguncangan serta kepanikan kaum Muslimin.

Wafatnya Abu Bakar, yaitu pada tahun ke-13 Hijriah, malam selasa bertepatan dengan tanggal 13 Jumadil Akhir pada usia 63 tahun. Masa kekhalifahannya selama 2 tahun, 3 bulan dan 3 hari, beliau dikuburkan di rumah Aisyah dan makamnya berada persis disamping makam Rasulullah Saw.

Surat wasiat (Kitabul ‘Ahdi) Abu-bakar kepada Umar

“Bismillahirrahmanirrahim, berikut ini adalah wasiat Abu-bakar, Khalifah Rasulullah, pada akhir kehidupannya di dunia dan awala kehidupannya di akhirat, dimana orang kafir akan beriman dan orang fajir akan yakin. Sesungguhnya , aku telah mengangkat Umar ibnul Khattab untuk memimpin kalian. Jika dia bersabar dan belaku adil, itulah yang kuketahui tentang dia dan pendapatku tentang dirinya, ketika dia menyimpang dan berubah, aku tidak mengetahui hal yang ghaib. Kebaikanlah yang aku inginkan bagi setiap apa yang telah diupayakan, orang-orang yang zhalim akan mengetahui apa nasib yang akan ditemuinya.”

Sumber : Kitab Sirah Nabawiyah, Analisis Ilmiah Manhajiah Sejarah Pergerakan Islam di Masa Rasulullah Saw

Buat situs web Anda dengan WordPress.com
Mulai